Friday, August 18, 2006

Soe Hok Gie

Dasar norak! Gue sebeeeee....lll...! banget sama diri gue sendiri. Masa seh gini hari gue baru nonton film karya Riri Riza ini yang dah menangin FFI kemarin...! Bayangin betapa nyeselnya gue karna ternyata pas gue nonton neh film busyeeet... Keren banget..! Nicholas Saputra sukses jadi Soe di film itu tanpa cacat..! Gue paling suka gaya jalannya and tas selempang yang di pake Soe. Trus gue paling suka bagian cerita waktu Soe ngiritik gurunya dan si guru itu ngebentak Soe "kamu yang tukang becak!" trus dengan lantang Soe ngejawab "sebagai manusia saya sama dengan tukang becak!" gilaaa.... heroik banget! Gue juga sempat nangis-nangis waktu di akhir bagian cerita saat Soe ngerasa terasing, sendirian dan ditinggalkan, sumpah daleeeem banget... nasionalisme dan idealisme gue tergugah...
Sebenernya gue juga sering ngalamin bagian itu. Gue juga sering ngerasa tersingkir, terasing, sendirian dan dikhianatin. Dan saat-saat itu paling sering gue alamin sejak gue selesai kuliah. Temen-temen gue gak tahu pada mencar kemana. Temen-temen yang dulu sama-sama di gerakan sekarang pada aktif di parpol dan ormas-oramas politik lain. Sementara perlawanan semakin mereda. Mahasiswa semakin jinak dengan penguasa. Mungkin sejarah bangsa ini memang terjebak dalam sebuah lingkaran setan akibat sumpah yang di ucapkan seorang tokoh pewayangan dalam cerita Arok Dedes, Mpu... siapa lagi gue lupa namanya, pokoknya dia yang nyiptain keris yang dipake Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung, bahwa negeri ini akan selalu bersimbah dara dan penkhiatan. Di generasi gue, jaman gue sekarang ini mungkin oportunis bukan barang baru. Kalau mau setback sejarah sudah pasti kita akan terbiasa melihat hal serupa juga terjadi pada generasi sebelum kita. Dan kondisi seperti itulah yang bikin gue muak dengan keadaan sekitar gue. Temen-temen gue banyak yang jadi dosen, PNS dan broker sukses sebagaimana impian mereka. Tentu saja hal tersebut mereka dapatkan dengan kerja keras dan usaha yang gigih yang telah lama mereka lakukan. Mungkin mereka menganggap itu bukan sebuah kesalahan. Bahkan orang awampun akan membenarkan tindakan mereka. Dan orang-orang seperti gue ini hanya akan dianggap orang yang iri atas kesuksesan mereka. Padahal sebenarnya usaha yang mereka lakukan selama ini adalah menjilat-jilat pantat penguasa demi mencapai mimpi mereka. Mereka adalah bukti dari analisis sejarah bahwa mereka masih berwatak budak. Kekayaan dan kemahsyuran yang mereka peroleh adalah hasil pengabdian mereka sebagai budak. Cita-cita mereka hanya satu, yaitu memiliki budak lain yang bersedia menjilat-jilat pantat mereka. Rakyat semakin melarat dan menderita, negeri ini semakin rusak, hutan, laut dan perut buminya dikuras habis-habisan, para petani tak pernah berhasil menjual hasil panen mereka dengan harga pantas bahkan sekedar untuk balik modal, guru-guru yang terlantar, anak-anak yang terampas hak-haknya, jangan dulu bicara soal moral perut rakyat saja belum tuntas. Tapi orang-orang macam mereka mana mau peduli sama semua itu. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana mengunakan uang mereka untuk kepentingan pribadi mereka dan memikirkan cara-cara untuk menambah-nambah harta mereka, peduli setan dengan haram dan halal.
Kadang-kadang sering kita melihat hal-hal ajaib terjadi di luar batas wajar. Keajaiban yang sulit diterima akal sehat. Di atas negeri yang katanya kaya & subur segala macam keanekaragaman hayati, budaya, suku, bahasa masih banyak orang miskin, pengangguran, kelaparan, terlantar atau bahkan terbelakang dan belum beradab.
Sayangnya semua rezim pemerintahan baik yang pernah berkuasa maupun yang masih berkuasa sampai hari ini selalu memnyembunyikan fakta. Mereka selalu melempar kesalahan pada rakyatanya, padahal yang salah adalah sistemnya dan generasinya yang tidak kapabel untuk mengurus bangsa ini.
Tapi semakin kugali, semakin tiada kutemukan yang kucari. Militer, sipil, birokrasi semuanya rusak. Bicara LSM atau lembaga NGO semuanya project oriented. Termasuk orang yang namanya sering kudengar tanpa pernah kubertemu muka sekalipun dengannya, Zohra Andi Baso. Yang pasti menurut semua mulut yang pernah mengenalnya dengan baik Zohra Andi Baso hanyalah bentuk baru dari sosok Soeharto yang menyuburkan sistem diktatoris dan feodal juga patriarkhis. Gak peduli mau marah atau enggak, gue gak takut! Ini sebuah penilaian yang paling objektif tentang dia karena gue sendiri belum pernah ketemu itu orang.
Itulah alasan kenapa gue suka film Gie, tokoh Soe Hok Gie dan kenapa gue gampang apatis, gue sensitif, gue narsis, gue benci PNS dan Militer, gue benci LSM & NGO Indonesia, gue sebel sama semua rezim diktatoris. Anjing tai kucing!!!!
Gue muak dengan kondisi ini, tapi gue gak tahu mau ngapain. Secara ekonomi gue terbatas, tapi kondisi itu selalu jadi boomerang saat gue mau bergerak. Yang ada malah mereka yang gue benci selalu menawarkan kerjasama dengan iming-iming bantuan seolah-olah keterbatasan gue adalah sebuah fakta konkrit dan logis untuk moderat dan berdamai dengan para pengkhianat dan kemunafikan.....
Kadang gue berharap, gue pengen kayak Soe, mungkin terasing dan mati muda adalah lebih baik daripada menggadaikan idealisme dan membiarkan diri terjebak dalam arus konspirasi kemunafikan.
Gue selalu siap untuk tiada sebab gue datang dari tiada. Tapi gue gak mau jadi generasi yang hilang. Siapapun elo yang pernah buka dan baca blog gue, tolong sebarkan pada semua orang yang loe kenal dan tolong sampaikan isi kepala gue ini agar semua mengerti apa yang menjadi kegundahan dan kegelisahan gue serta apa yang menjadi cita-cita dan harapan gue selama ini. Gue gak perlu pendukung, gue cuma mau orang ngerti selanjutnya terserah mereka....
Terimakasih buat loe semua. Gue percaya usaha loe adalah sebuah kontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

No comments: